Foto: Istimewa

MagMA Entertainment – Palembang, 12 Mei 1979. Sekitar tujuh ribu orang memenuhi separuh Stadion Bumi Sriwijaya untuk malam penutupan Festival Film Indonesia VII—setelah tiga hari sebelumnya, 9 Mei, dibuka di tempat yang sama oleh Dirjen Radio, Televisi dan Film. Malam itu sekaligus diumumkan siapa pemenang piala Citra.

Dari 38 film cerita dan 14 film dokumenter yang dilombakan, Dewan Juri yang terdiri dari Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Johardin, Sumaryo LE, Gayus Siagian, Enoch Markum, dan Abas Alibasyah memutuskan film besutan Teguh Karya, November 1828 sebagai film terbaik.

Tidak hanya itu, film yang diproduksi oleh PT. Interstudio, PT. Gemini Satria Film, dan PT. Garuda Film ini membawa lima piala lain masing-masing untuk Penyutradaraan Terbaik (Teguh Karya), Juru Kamera Terbaik (Tantra Suryadi), Penata Artistik Terbaik (Benny Benhardi), Penata Musik Terbaik (Franky Raden), dan Pemeran Pembantu Pria Terbaik (El Manik).

Pesaing November 1828 di FFI VII

Di FFI tahun itu, November 1828 bersaing dengan Pengemis dan Tukang Becak, Binalnya Anak Muda, Gara-gara Isteri Muda, dan Kemelut Hidup. Dikatakan majalah Tempo edisi 19 Mei 1979, dua calon terkuat FFI kala itu adalah November 1828 dan Pengemis dan Tukang Becak.

Pengemis dan Tukang Becak disutradarai Wim Umboh. Kisahnya soal rentetan kemalangan yang diderita tokoh utamanya, dari mulai di kampung hingga hidup terlunta-lunta di kota besar. Film ini dibintangi Christine Hakim, Ully Artha serta Dicky Zulkarnaen. Kalau Anda ingat, di sekitar tahun 1970-an booming film yang mengumbar kemalangan tokohnya untuk mendapat efek sedih penonton. Yang paling fenomenal tentu saja Ratapan Anak Tiri (1973).

Maka sebetulnya, November 1828 sebuah anomali. Ia tak seturut dengan tren film masa itu. Teguh Karya menyuguhkan kisah kepahlawanan sebuah keluarga di tengah kecamuk Perang Jawa, ketika perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya begitu sengit merepotkan Belanda.

Kita diajaknya bersua Kromoludiro (Maruli Sitompul). Ia ditangkap Belanda karena ditengarai mengetahui lokasi persembunyian Sentot Prawirodirjo, salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro. Kromoludiro lalu ditawan bersama keluarga di rumahnya. Di film ini kita melihat keteguhan hati Kromoludiro untuk tidak mau buka mulut, meski istri dan anak-anaknya dalam ancaman. Di lain pihak, di antara perwira Belanda berdarah indo sendiri terjadi konflik, yakni antara perwira yang simpati pada rakyat terjajah dan yang ingin diakui sebagai Belanda tulen.

Dengan cerita yang kompleks macam begitu rasanya wajar bila November 1828 mendapat predikat terbaik tahun itu. Selain itu juga, Teguh serius menggarap filmnya dengan tata artistik mendekati keadaan zaman itu. Oleh sebab itu, filmnya berbujet mahal di masanya, menghabiskan uang Rp 240 juta dan digarap hampir setengah tahun.

Seminar Film Departemen Penerangan

Dua bulan sebelum FFI digelar, berlangsung seminar film oleh Departeman Penerangan di Jakarta. Seminar tersebut bertema “Film Sebagai Alat Perjuangan dan Pembangunan Bangsa”. Ditulis majalah Tempo, seminar itu menghasilkan rumusan, “film harus bersifat dan berfungsi kultural edukatif.” Lebih lanjut lagi dijelaskan, “Film Indonesia harus mampu menggambarkan sifat-sifat manusia Indonesia yang mampu mengendalikan diri sendiri agar tidak mengganggu keseimbangan dan keserasian.”

Tempo lantas bertanya, adakah kaitan seminar dengan festival film di Palembang? Dari 38 film cerita yang dinilai juri, mungkin bisa disebut November 1828 dan Buaya Deli (sutr. Mochtar Soemodimedjo, film berlatar masa penjajahan Belanda di Sumatera Utara) yang kira-kira masuk ukuran seminar. Kebetulan November 1828 yang paling banyak membawa piala Citra, termasuk untuk film terbaik.

Maka, pertanyaan yang patut diajukan sebetulnya, apa November 1828 menang FFI karena napasnya senada dengan pesan seminar Pemerintah di Jakarta? Ingat, waktu itu masa Orde Baru, peran Pemerintah begitu kuat, termasuk leluasa mengatur perfilman.

Dalam pertimbangan keputusan juri FFI kala itu pesan propaganda sebagaimana amanat seminar tak terlalu penting. Dalam catatannya juri menyebut, “Film dapat berperan secara amat berarti, jika secara sadar dipergunakan untuk mengembangkan sikap hidup dan nilai-nilai budaya yang mendorong berkembangnya manusia Indonesia.”

Kelesuan di Industri Film

Di pertengahan tahun 1979 mulai terasa kelesuan membikin film. Masa panen produksi tahun 1977 dan 1978 telah berakhir. Ketika itu, produksi film yang berjumlah 58 pada 1976 melejit jadi 134 judul tahun berikutnya. Selepas masa panen, untuk memproduksi setiap judul, pemilik modal mempunyai taruhan besar. Iklim yang demikian, diperkirakan Tempo kala itu, melahirkan film pilihan—tidak asal jadi.

Sebagaimana dicatat juri FFI: “Film Indonesia sekarang (maksudnya tahun 1979—red.) pada umumnya menunjukkan kemajuan besar dalam teknik kamera, editing, dan beberapa penyutradaraan telah mencapai tingkat dan kerapian yang tinggi.”

Dan November 1828 adalah bukti nyata untuk itu. Filmnya bukan seturut pesan Pemerintah, melainkan film yang sudah dibuat dengan teramat baik. Lain tidak. ***

No Comments

Leave a Comment

15 − 15 =